Integrasi dan API

API Sprawl Membuat Integrasi Bertambah Cepat, tetapi Kepemilikan Sistem Makin Kabur

API membantu perusahaan menghubungkan berbagai aplikasi dengan cepat. Namun, pertumbuhan API tanpa kepemilikan dan tata kelola yang jelas dapat menciptakan ketergantungan tersembunyi, meningkatkan biaya maintenance, serta menyulitkan perubahan dan pengembangan sistem.

API Sprawl Membuat Integrasi Bertambah Cepat, tetapi Kepemilikan Sistem Makin Kabur

Satu aplikasi internal membutuhkan data karyawan dari sistem HR. Aplikasi lain perlu mengambil informasi transaksi dari sistem keuangan. Tidak lama kemudian, perusahaan menambahkan dashboard manajemen, aplikasi mobile, layanan pelanggan, dan platform milik vendor.

Setiap kebutuhan tersebut dapat diselesaikan dengan integrasi API. Proses pertukaran data menjadi lebih cepat tanpa harus menggabungkan seluruh aplikasi ke dalam satu sistem besar.

Namun, kemudahan ini dapat menimbulkan persoalan baru. Jumlah API terus bertambah, sementara perusahaan mulai kesulitan mengetahui siapa yang mengelola setiap integrasi. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai API sprawl: pertumbuhan API yang lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk mengendalikannya.

Masalah utamanya bukan semata-mata jumlah API. Risiko muncul ketika API tidak memiliki kepemilikan, dokumentasi, dan siklus pengelolaan yang jelas.

Setiap Kebutuhan Baru Melahirkan Integrasi Baru

API memungkinkan perusahaan menghubungkan aplikasi tanpa harus membangun ulang seluruh sistem. Ketika bagian operasional membutuhkan data terbaru, tim pengembangan dapat menyediakan jalur integrasi dalam waktu relatif singkat.

Pendekatan ini sangat membantu perusahaan yang memiliki banyak aplikasi internal dan sistem legacy. Sistem lama tetap dapat digunakan, sementara aplikasi baru memperoleh data yang diperlukan melalui API.

Persoalan mulai muncul ketika setiap proyek membuat jalur integrasinya sendiri. Dua tim dapat membangun API dengan fungsi serupa karena tidak mengetahui bahwa layanan tersebut sebenarnya sudah tersedia. Vendor juga mungkin membuat endpoint baru untuk menyelesaikan kebutuhan proyek tertentu tanpa mempertimbangkan penggunaannya setelah proyek berakhir.

Lambat laun, perusahaan memiliki banyak API yang tersebar di berbagai aplikasi, server, dan layanan cloud. Sebagian masih aktif, sebagian tidak lagi digunakan, sedangkan sebagian lainnya tidak diketahui statusnya.

Integrasi Berjalan, tetapi Penanggung Jawabnya Tidak Jelas

Selama API masih berfungsi, persoalan kepemilikan sering tidak terlihat. Masalah baru terasa ketika terjadi gangguan, perubahan requirement, atau pergantian vendor.

Sebagai contoh, aplikasi penjualan mengambil data pelanggan dari sebuah API yang dibuat tiga tahun lalu. Ketika format data berubah, tim aplikasi penjualan tidak mengetahui siapa yang dapat memperbarui API tersebut. Tim lama sudah berpindah proyek, dokumentasi tidak lengkap, dan vendor pembuat sistem tidak lagi terlibat.

Situasi seperti ini membuat masalah sederhana membutuhkan waktu penyelesaian lebih panjang. Tim harus menelusuri kode, server, akses, dan hubungan antarsistem sebelum dapat menentukan tindakan.

Persoalan seperti ini juga sering kami temukan ketika mendampingi proses pengembangan, integrasi, maupun modernisasi sistem pada perusahaan.

Tanpa pemilik yang jelas, API dapat menjadi aset penting yang tidak benar-benar dikelola oleh siapa pun. Sistem tetap bergantung padanya, tetapi tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas performa, keamanan, perubahan, maupun rencana pemeliharaannya.

Ketergantungan Antarsistem Menjadi Sulit Dipetakan

Satu API dapat digunakan oleh lebih banyak aplikasi daripada yang diperkirakan. API data produk, misalnya, mungkin dipakai oleh website, aplikasi mobile, sistem gudang, dashboard penjualan, dan mitra distribusi.

Ketika tim mengubah API tersebut untuk memenuhi kebutuhan baru, dampaknya dapat menyebar ke berbagai proses bisnis. Website mungkin tetap berjalan, tetapi sinkronisasi gudang gagal. Dashboard manajemen dapat menampilkan data yang keliru karena masih menggunakan struktur lama.

API sprawl membuat hubungan semacam ini semakin sulit terlihat. Perusahaan tidak hanya kehilangan daftar API yang dimiliki, tetapi juga kehilangan gambaran mengenai aplikasi mana yang bergantung pada setiap API.

Akibatnya, perubahan sistem menjadi lebih berisiko. Tim membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan analisis, pengujian, dan koordinasi. Pengembangan yang seharusnya mempercepat bisnis justru tertahan oleh ketergantungan yang tidak terdokumentasi.

Dampaknya Bukan Hanya pada Tim IT

API yang tidak terkelola dapat memengaruhi biaya dan operasional perusahaan. Ketika terjadi gangguan, waktu tim habis untuk mencari sumber masalah. Perbaikan menjadi lebih mahal karena harus melibatkan banyak pihak dan dilakukan dengan informasi yang terbatas.

Maintenance aplikasi juga semakin rumit. Versi lama tetap dipertahankan karena perusahaan tidak yakin apakah masih ada sistem yang menggunakannya. Infrastruktur terus menanggung layanan yang seharusnya dapat dihentikan.

Risiko lainnya adalah munculnya integrasi ganda. Beberapa tim membangun fungsi serupa dengan teknologi dan standar berbeda. Selain menambah biaya pengembangan, kondisi ini menghasilkan data yang tidak konsisten dan memperbesar technical debt.

Dari sisi keamanan, API lama dapat tetap menyediakan akses ke data atau fungsi tertentu meskipun tidak lagi dipantau secara aktif. Semakin sedikit informasi yang dimiliki perusahaan mengenai API tersebut, semakin sulit pula memastikan bahwa aksesnya masih sesuai dengan kebutuhan bisnis.

API Gateway Tidak Otomatis Menyelesaikan Persoalan

Perusahaan sering menggunakan API gateway untuk mengatur akses, lalu lintas, dan pemantauan integrasi. Solusi ini penting, terutama ketika jumlah API mulai meningkat.

Namun, penggunaan platform API management tidak otomatis menjawab pertanyaan mengenai kepemilikan. Teknologi dapat menunjukkan bahwa sebuah API aktif, tetapi belum tentu menjelaskan unit bisnis mana yang membutuhkannya, siapa yang menyetujui perubahan, atau kapan layanan tersebut boleh dihentikan.

Google Cloud menekankan pentingnya pembagian tanggung jawab antara tim pusat yang menetapkan standar dan tim pemilik layanan yang mengoperasikan API. Pendekatan ini menunjukkan bahwa tata kelola API bukan hanya persoalan memilih alat, melainkan juga mengatur peran dan cara kerja organisasi.

Perusahaan tetap memerlukan keputusan yang jelas mengenai siapa yang bertanggung jawab atas fungsi bisnis, pengelolaan teknis, keamanan, dan keberlanjutan setiap API.

Apa yang Perlu Dipertimbangkan Perusahaan

Langkah pertama adalah mengetahui API yang benar-benar dimiliki dan digunakan. Inventaris tidak harus langsung sempurna, tetapi setidaknya mencatat fungsi API, aplikasi pengguna, data yang dipertukarkan, versi, status, serta pihak yang bertanggung jawab.

Setiap API sebaiknya memiliki pemilik bisnis dan pemilik teknis. Pemilik bisnis memastikan bahwa integrasi masih relevan dengan proses perusahaan. Pemilik teknis bertanggung jawab terhadap perubahan, performa, dokumentasi, dan maintenance.

Perusahaan juga perlu memetakan ketergantungan sebelum melakukan perubahan. Informasi ini membantu tim memperkirakan dampak terhadap aplikasi internal, sistem legacy, vendor, dan proses operasional.

Standar sederhana dapat diterapkan agar pertumbuhan API tetap terkendali. Misalnya, setiap API baru harus terdaftar, memiliki dokumentasi minimum, mengikuti aturan akses yang konsisten, dan mempunyai rencana penghentian ketika tidak lagi digunakan.

Evaluasi berkala juga diperlukan. API yang tidak aktif, memiliki fungsi ganda, atau masih menggunakan versi lama perlu ditinjau. Penghentian harus dilakukan secara terencana agar tidak mengganggu sistem lain.

Tujuannya bukan membatasi tim pengembangan. Tata kelola yang tepat justru membantu tim menemukan API yang dapat digunakan kembali, mengurangi pekerjaan berulang, dan mempercepat integrasi berikutnya.

Kecepatan Integrasi Harus Diikuti Kejelasan Kepemilikan

API sprawl biasanya tidak terbentuk melalui satu keputusan besar. Kondisi tersebut tumbuh sedikit demi sedikit dari berbagai proyek, kebutuhan mendesak, perubahan sistem, dan integrasi pihak ketiga.

Perusahaan tidak perlu menghindari API atau memperlambat inovasi. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap API tercatat, memiliki tujuan, diketahui penggunanya, dan mempunyai penanggung jawab yang jelas.

Integrasi yang baik bukan hanya integrasi yang berhasil menghubungkan dua aplikasi. Integrasi tersebut juga harus dapat dipelihara, dikembangkan, diamankan, dan disesuaikan ketika proses bisnis berubah.

Rakit Sembada membantu perusahaan menata kebutuhan integrasi melalui layanan System & API Integration, IT Architecture Design, pengembangan aplikasi custom, dan modernisasi sistem. Diskusikan kebutuhan sistem perusahaan Anda bersama kami.

Siap membangun sistem yang kokoh
untuk masa depan bisnis Anda?

Konsultasikan kebutuhan Anda bersama tim ahli kami sekarang juga.

Konsultasi Gratis
SEARCH CONTENT

Cari Artikel & Pages

Ketik keyword untuk mencari.