Monolith atau Microservices: Mana yang Sesuai untuk Sistem Perusahaan?
Monolith atau microservices memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing. Pelajari cara memilih arsitektur yang sesuai dengan kebutuhan, biaya, kemampuan tim, dan perkembangan sistem perusahaan.

Ketika sebuah perusahaan mulai membangun aplikasi internal, perhatian biasanya tertuju pada fitur. Sistem harus bisa mencatat transaksi, mengelola data pelanggan, menghasilkan laporan, atau menghubungkan proses antardepartemen.
Namun, ada keputusan lain yang tidak kalah penting, yaitu cara sistem tersebut disusun. Salah satu pilihan yang sering muncul adalah menggunakan arsitektur monolith atau microservices.
Microservices sering dianggap lebih modern dan mudah dikembangkan. Sementara itu, monolith kerap dipandang sebagai pendekatan lama yang akan menyulitkan perusahaan ketika aplikasi berkembang. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Dalam praktiknya, setiap arsitektur memiliki kelebihan dan konsekuensi. Pilihan terbaik bukan ditentukan oleh teknologi yang paling populer, melainkan kebutuhan bisnis, kemampuan tim, tingkat kompleksitas aplikasi, dan rencana pengembangan jangka panjang.
Perbedaan Monolith dan Microservices Bukan Sekadar Struktur
Pada arsitektur monolith, berbagai fungsi aplikasi berada dalam satu sistem utama. Modul penjualan, keuangan, persediaan, pengguna, dan pelaporan dikembangkan serta dijalankan sebagai satu kesatuan.
Pendekatan ini membuat proses pengembangan awal relatif lebih sederhana. Tim tidak perlu mengelola banyak layanan, jalur komunikasi, dan proses deployment yang terpisah.
Sementara itu, microservices membagi aplikasi menjadi beberapa layanan yang lebih kecil. Masing-masing layanan menangani fungsi tertentu dan dapat dikembangkan atau diperbarui secara terpisah.
Sebagai contoh, fungsi pembayaran, notifikasi, inventaris, dan autentikasi dapat berjalan sebagai layanan yang berbeda. Ketika ada perubahan pada sistem notifikasi, tim tidak selalu harus memperbarui seluruh aplikasi.
Perbedaan ini akan memengaruhi biaya, proses maintenance, kebutuhan infrastruktur, pembagian tim, hingga cara perusahaan menangani gangguan sistem.
Monolith Masih Relevan untuk Banyak Perusahaan
Arsitektur monolith dapat menjadi pilihan yang tepat untuk aplikasi internal dengan ruang lingkup yang belum terlalu besar. Pendekatan ini juga cocok ketika perusahaan baru mulai mengubah proses manual menjadi sistem digital.
Misalnya, sebuah perusahaan ingin membangun aplikasi untuk mengelola pengajuan biaya, persetujuan atasan, dan pembuatan laporan. Jika jumlah pengguna masih terbatas dan prosesnya belum terlalu kompleks, penggunaan microservices belum tentu memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya pengelolaannya.
Dengan monolith, pengembangan dapat berjalan lebih cepat karena struktur sistem lebih sederhana. Pengujian, deployment, dan penelusuran masalah juga relatif lebih mudah dilakukan oleh tim yang kecil.
Masalah biasanya bukan terletak pada monolith itu sendiri, tetapi pada cara aplikasi tersebut dibangun. Monolith yang tidak memiliki pemisahan modul dengan jelas dapat berubah menjadi sistem yang sulit dipelihara. Perubahan pada satu fitur berisiko memengaruhi bagian lain karena seluruh fungsi saling terhubung tanpa batas yang baik.
Karena itu, aplikasi monolith tetap membutuhkan struktur kode, dokumentasi, dan pembagian modul yang terencana.
Microservices Cocok ketika Kompleksitas Mulai Meningkat
Microservices mulai relevan ketika sistem perusahaan memiliki banyak fungsi dengan kebutuhan yang berbeda.
Sebagai contoh, sistem penjualan mungkin menerima transaksi dalam jumlah besar, sementara modul pelaporan hanya digunakan pada waktu tertentu. Dengan microservices, perusahaan dapat meningkatkan kapasitas layanan transaksi tanpa harus menambah kapasitas seluruh aplikasi.
Pendekatan ini juga dapat membantu ketika perusahaan memiliki beberapa tim development. Setiap tim dapat bertanggung jawab atas layanan tertentu sehingga pengembangan tidak selalu menunggu perubahan dari tim lain.
Microservices juga memberikan fleksibilitas dalam deployment. Pembaruan pada satu layanan dapat dilakukan tanpa harus merilis ulang seluruh sistem, selama hubungan antarlayanan telah dirancang dengan baik.
Meski demikian, manfaat tersebut biasanya baru terasa ketika organisasi memang memiliki kebutuhan, skala, dan kemampuan operasional yang sesuai.
Microservices Membawa Kompleksitas Baru
Membagi aplikasi menjadi banyak layanan tidak otomatis membuat sistem lebih sederhana. Kompleksitas yang sebelumnya berada di dalam satu aplikasi akan berpindah ke hubungan antarservice.
Tim harus memastikan setiap layanan dapat berkomunikasi dengan baik. Perusahaan juga perlu mengelola API, autentikasi, pemantauan, penyimpanan data, pencatatan aktivitas, serta penanganan ketika salah satu layanan mengalami gangguan.
Proses yang terlihat sederhana bagi pengguna dapat melibatkan beberapa layanan sekaligus. Sebuah transaksi penjualan, misalnya, mungkin perlu memperbarui data pembayaran, persediaan, pengiriman, dan notifikasi.
Jika salah satu layanan gagal, sistem harus memiliki cara untuk menjaga agar data tidak saling bertentangan. Penelusuran masalah juga menjadi lebih sulit karena gangguan dapat muncul dari komunikasi antarlayanan, bukan hanya dari satu aplikasi.
Persoalan seperti ini juga sering kami temukan ketika mendampingi proses pengembangan, integrasi, maupun modernisasi sistem pada perusahaan.
Itulah sebabnya microservices membutuhkan kesiapan DevOps, monitoring, dokumentasi, dan pengelolaan infrastruktur yang lebih matang. Tanpa kesiapan tersebut, perusahaan justru dapat menghadapi biaya maintenance yang lebih tinggi.
Apa yang Perlu Dipertimbangkan Perusahaan?
Pemilihan arsitektur sebaiknya dimulai dari persoalan yang ingin diselesaikan, bukan dari keinginan menggunakan teknologi tertentu.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain:
Seberapa kompleks proses bisnis yang akan ditangani?
Berapa banyak pengguna dan transaksi yang diperkirakan?
Apakah setiap bagian sistem memiliki kebutuhan scalability yang berbeda?
Berapa jumlah developer yang akan mengelola aplikasi?
Apakah perusahaan memiliki tim DevOps dan infrastruktur yang memadai?
Seberapa sering aplikasi akan diperbarui?
Apakah sistem perlu terhubung dengan banyak aplikasi lain?
Berapa biaya pengembangan dan maintenance yang dapat disiapkan?
Untuk aplikasi baru dengan kebutuhan yang masih berkembang, monolith yang disusun secara modular sering menjadi pilihan realistis. Sistem tetap berada dalam satu aplikasi, tetapi setiap fungsi dipisahkan dengan jelas agar lebih mudah dikembangkan.
Microservices dapat dipertimbangkan ketika batas setiap fungsi bisnis sudah cukup jelas dan terdapat kebutuhan nyata untuk mengembangkan, menjalankan, atau meningkatkan kapasitas layanan secara terpisah.
Migrasi Tidak Harus Dilakukan Sekaligus
Perusahaan yang telah memiliki aplikasi monolith tidak harus langsung membangun ulang seluruh sistem menjadi microservices.
Modernisasi dapat dilakukan secara bertahap. Tim dapat mengidentifikasi bagian yang paling sering berubah, memiliki beban transaksi tinggi, atau menjadi penghambat pengembangan. Bagian tersebut kemudian dipisahkan menjadi layanan tersendiri apabila memang memberikan manfaat.
Pendekatan bertahap membantu perusahaan menjaga operasional tetap berjalan sekaligus mengendalikan biaya dan risiko perubahan.
Kesimpulan
Tidak ada satu arsitektur yang selalu tepat untuk semua sistem perusahaan. Monolith menawarkan kesederhanaan dan kecepatan pengembangan, sedangkan microservices memberikan fleksibilitas ketika sistem, pengguna, dan tim sudah berkembang.
Keputusan arsitektur perlu mempertimbangkan kebutuhan bisnis, kemampuan teknis, biaya maintenance, dan arah pertumbuhan perusahaan. Teknologi yang tepat bukan yang paling kompleks, tetapi yang mampu menyelesaikan kebutuhan hari ini tanpa menutup ruang pengembangan pada masa mendatang.
Rakit Sembada membantu perusahaan merancang arsitektur, mengembangkan aplikasi custom, dan memodernisasi sistem sesuai kebutuhan bisnis. Diskusikan kebutuhan sistem perusahaan Anda bersama tim Rakit Sembada.
Siap membangun sistem yang kokoh
untuk masa depan bisnis Anda?
Konsultasikan kebutuhan Anda bersama tim ahli kami sekarang juga.